SELAMAT DATANG

Selamat menikmati artikel-artikel hasil copy & paste (Copas) berikut, semoga dapat menambah wawasan bagi pribadi yang ingin berkembang.
Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Wednesday, March 13, 2013

Kaya Adalah Menciptakan Passive Income

Jakarta - Kekayaan adalah kemampuan untuk terus bertahan dengan gaya hidup yang ada tanpa harus bekerja.

Penelitian yang dilakukan oleh Galluo Internasional menunjukan bahwa rata-rata eksekutif ibukota & Negara Asia yang kaya mampu bertahan 90 hari dengan gaya hidup yang telah ada walaupun besok mereka berhenti bekerja. Setelah 90 hari mereka harus mulai menjual asset atau berhutang.

Kaya adalah relatif. Sebagian orang merasa kaya ketika mempunyai uang Rp 10 juta. Sebagian orang merasa tidak kaya walaupun sudah memiliki uang Rp 10 miliar. Menurut majalah Forbes, kaya adalah orang yang mempunyai penghasilan US$ 1 juta ke atas setahunnya.

Sedangkan menurut Robert T.Kiyosaki yang mengutip dari gurunya Buckminster Fuller bahwa kaya adalah bukan berapa besar active income Anda, melainkan kaya adalah passive income yang lebih besar dari biaya hidup.

Yang dimaksud passive income di sini adalah uang yang masuk tanpa harus berkerja. Sebagai perbandingan : Mike Tyson, dia menghasilkan US$ 300 juta sewaktu bertinju, tapi kini bangkrut dan masih berhutang US$ 35 juta. Maka sebenarnya Mike Tyson bukan termasuk kaya dan termasuk pula dalam kategori orang yang bukan kaya adalah orang yang penghasilan US$ 1 juta/tahun namun pengeluarnya US$ 1,23 juta/tahun.

Pertanyaan penting kali ini adalah:

1.Bila besok Anda berhenti bekerja, berapa lama Anda akan dapat bertahan hidup dengan gaya hidup Anda yang sekarang tanpa harus menjual asset-asset yang Anda miliki?
2.Lalu bagaimana kita bisa kaya menurut versi Robert T.Kiyasaki di mana passive income lebih besar dari biaya hidup?

Jadi, sebetulnya menurut Robert T.Kiyosaki, kaya adalah bagaimana menciptakan passive income lebih besar dari biaya hidup. Cara membuat passive income:

  • Royalti dari hak cipta
  • Rumah yang disewakan/dikontrakan
  • Saham-saham yang menghasilkan dividen
  • Usaha-usaha yang dihasilkan

Semoga Bermanfaat. Saya Tung Desem Waringin mengucapkan Salam Dahsyat.

Sumber 

Saturday, November 10, 2012

13 Tipe Pembeli

Memaksimalkan pembeli merupakan salah satu kiat untuk meningkatkan omset toko anda.Maksudnya?Begini…Sebagai contoh apabila saya belanja disalah satu agen langganan,si Agen Tadi selalu bertanya;”Apa lagi…Sambil menawarkan barang ini barang itu,atau sekedar bertanya ;’Itunya(Sambil menyebut suatu Barang) Masih?Bahkan ketika akan membayar tetap masih ditanya:”Hanya segini saja?terkadang saat ditanya saya jadi ingat suatu barang yang harus dibeli atau saya terbujuk tawaran suatu barang hingga akhirnya tambah belanjanya.

PembeliJadi kesimpulannya lakukan follow up kepada setiap pembeli yang belanja di toko anda jadi tidak hanya sekedar ambil barang ,bayar selesai.Follow up bisa berupa menanyakan barang apa lagi yang dicari, menawarkan barang lain,menawarkan barang yang harganya murah,barang yang sedang promo atau mengingatkan barang-barang yang biasa dibeli si pembeli tadi.Nah…agar langkah tadi efektif yang perlu diperhatikan kenali dulu tipe-tipe pembeli yang cocok untuk di follow up sehingga hasilnya bisa maksimal.Namun sebelumnya anda harus tahu dulu tipe-tipe pembeli.Apa saja sih tipe-tipe pembeli?Ini dia daftar selengkapanya:

1.Setia.



Tipe ini tidak sekedar karena harga yang murah namun lebih cenderung karena faktor personal.Sudah cocok dengan penjualnya,teman akrab,teman sedaerah dan lain-lain.Jadi walaupun ada toko baru tetap saja menjadi pelanggan tetap.

2.Ingin Bukti.



Tipe ini dipengaruhi karena faktor harga.Jadi dia sudah pernah berbelanja ke beberapa toko tapi ditempat anda yang paling murah.Akhirnya terbentuk image di benak dia kalau anda yang paling murah sehingga menjadi pelanggan tetap.

3.Suka Bertanya harga.



Tipe ini sedikit belanja tapi banyak bertanya harga.Biasanya hanya ingin mengececk harga saja.

4.Selalu ingin tahu detail harga.



Mungkin karena biasa belanja di mini market atau karena takut dimahalin jadi setiap mau bayar dia ingin tahu detail harga satu persatu.

5.Rewel.



Selalu ingin menawar harga padahal sudah bilang harga pas.

6.Beli yang murah saja.



Kalau membeli to the point,hanya belanja yang menurut dia paling murah saja sedangkan barang lainnya belanja di toko lain.

7.Suka Menawar.



Semua harga yang akan dibeli ditoko selalu saja ditawar dulu.

8.Memanfaatkan Kesempatan.



Memanfaatkan harga yang ketinggalan.Apabila ada pembeli bertanya harga tahu-tahu langsung beli beli banyak waspada berarti harga toko anda sudah ketinggalan.

9.Sebagai Alternatif.



Toko anda hanya dijadikan sebagai toko alternatif apabila toko langganannya tutup atau barangnya tidak ada.

10.Plin-plan.



Biasanya punya toko langganan lebih dari satu jadi terkadang belanja kesana lain kali belanja ke tempat yang lainnya.

11.Cerdas.



Tipe ini selalu berpikir kritis dalam membeli barang tidak sekedar murah namun juga kualitas,teliti dalam membeli suatu barang dari bahannya,produsennya,kadaluarsanya,label halalnya atau Mencari harga yang lebih ekonomis dengan kualitas yang sama.

12.Ada Maunya.



Nggak pernah/jarang belanja tahu-tahu belanja banyak tanpa banyak bertanya harga ujung-ujungnya dilain hari ngutang atau belanja sedikit ujung-ujungnya nawarin barang.

13.Suka membandingkan Harga.



Apabila ada harga yang menurut dia mahal,lalu membandingkan harga ditoko lain yang lebih murah.
 Sumber 

Saturday, March 31, 2012

Potensi CBD Diramalkan Bergeser Ke Timur Jakarta

Binakarya Propertindo
Kawasan yang masih menyimpan potensi menjadi kawasan bisnis adalah timur Jakarta. Kawasan tersebut mencakup sekitar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), ring road, Cawang, dan Jalan M T Haryono.
JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring perkembangan Jakarta sebagai pusat bisnis di Indonesia, kawasan-kawasan bisnis baru dipastikan akan terus bermunculan. Apalagi, saat ini central business district (CBD) di segitiga emas Thamrin-Sudirman-Kuningan semakin padat, sehingga perkembangan kawasan bisnis ini diramalkan bergeser ke timur.
Kawasan bisnis di selatan dan barat sudah cukup banyak, sedangkan ke utara sudah mentok.
-- Rudy Margono
"Kawasan bisnis di selatan dan barat sudah cukup banyak, sedangkan ke utara sudah mentok," ujar Ketua Dewan Pimpinan (DPD) Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Jakarta, Rudy Margono.
Karenanya, kawasan yang masih menyimpan potensi menjadi kawasan bisnis adalah timur Jakarta. Kawasan tersebut mencakup sekitar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), ring road, Cawang, dan Jalan M T Haryono.
Rudy menyebutkan, Jakarta Timur bakal makin berkembang dengan adanya Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang menghubungkan Cengkareng dengan Bintaro. Sayangnya, karena lokasinya dekat Bandara Halim Perdanakusuma, properti yang dibangun di Jakarta Timur harus tunduk pada aturan ketinggian maksimal berdasarkan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP).
"Sampai radius tertentu dari Halim, untuk mendapat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) harus mendapat rekomendasi pengelola bandara," jelas Rudy
Dampaknya, harga properti di sekitar Halim diproyeksikan tidak naik tajam.
"Karena tidak bisa membangun terlalu tinggi, yang bisa dijual tidak banyak," jelas Rudy.
Saat ini, ada dua proyek high rise yang tengah dibangun di Cawang, yaitu The H Residence milik PT Hutama Karya (HK) Realtindo dan The Hive @ Tamansari milik PT Wijaka Karya (Wika) Realty. Namun, Sekretaris Perusahaan Wika Wijanarko Yuwono tidak sependapat.
"Mestinya harga tidak ada kaitannya dengan ketinggian," ujarnya.
Menurutnya, banyak hal yang berpengaruh di sana, contohnya nilai agunan itu sendiri. Wijanarko mengakui, Wika harus mengantongi rekomendasi KKOP sebagai salah satu syarat perizinan sebelum mendirikan The Hive @ Tamansari. Proyek ini memang berada dalam radius ketinggian maksimal 72 m, atau setara 23 lantai.
"Tapi, itu tidak masalah, karena yang kami bangun hanya 19 lantai," ungkap Wijanarko. (Adisti Dini Indreswari)

Sumber